Selasa, 08 Juli 2014

Cermin (Cerita Mini)

Edit Posted by with No comments


Menunggu Serinai Sunyi

“Aku harus menunggunya. Serinai nyaring penutup waktu kejaman nafsu”

Aku masih termangu menerawang pikiran akan gerak-gerik segelas cairan bening, yang berada di hadapanku saat ini. Sembari membuat gendang musik sederhana mengetuk 2 jari, yang tak lain adalah si manis dan si tengah yang seakan-akan memperbesar volume detakan jam dinding rumahku.
Sesekali kuperbaiki cara duduk manisku,
Kebosanan telah merenggut waktuku selalu. Tinggal sendirian di rumah kos yang sepi tanpa seorang teman, membuat hatiku terus menerus merasa sunyi dan hampa. Sepatah kata pun tak pernah kulontarkan saat aku berada di rumah kecil ini, yang hanya bisa menampung ruang kamar serta ruang mandiku saja.
Wajahku tak pernah berbeda dengan hari-hari lampau. Penuh surut dan terjal bila diserupakan dengan jalanan sepi.
Masih seperti biasa, menunggu batasan waktu yang selalu dinantikan, menambah kekosongan pada jam-jamku yang semakin larut termakan nafas.
Aku mengambil langkah membaca al-qur’an untuk menunggu serinai pembatas dikala fajar masih terlelap tidur. Ini keputusan akhirku.
Kejadian sahur yang cukup membosankan, namun harus tetap aku nikmati. Menunggu kedatangan suara serinai itu, seakan memukul tong besi tanpa isi, yang nyaring bunyi. Sepi…

Kilas Indonesia

Edit Posted by with No comments


Tema : Indonesia

oleh : falp

Sekat menyekat bersuara
Beriak semangat, mencurah pikiran
Bersatu langkah, tancapkan asa
Teriak merdeka untuk sekali saja

Mencuat segala asa
Melebur menjadi sebuah bahasa
Gelombang teriakan berpadu rata
Semangat berkobar seperti takkan sirna

Sebongkah tanahpun kita gotong bersama
Kebun semutpun kita hiasi seraya
Awan cirrus kita bagi rata
Holopis kuntul baris, Soekarno berkata

Matahari telah menjadi saksinya
Turut cangkul, belati keris selalu bersua

Itu dulu, Kini,

Pemisah juang waktu
Mengubah semua prisegala
Asamu asaku
Hidupmu hidupku
Seakan-akan tak tahu menahu

Merdekakah kita?

Penguasa asing merajalela
Tanah hijau menjadi istana raja
Raja berkumis  pemuja dewa
Perut buncit dasi segitiga
Individualistik prioritas utama

Negara yang diagungkan akan megabiodiversitas
Akan nusantara, akan khatulistiwa, Akan maritim
Sekarang sudah terasa asing di kuping
Predikat emas mengalahi zaman
Dengan Julukan harapan,, tak berkesan

Masih layakkah kita teriak merdeka?

Dialog pagi

Edit Posted by with No comments


Dialog Pagi

oleh : falp
 
Penyakit debu kini timbul kembali
Perenggut asa
Kesunyian menyesakkan
Hampa terjadi di penghujung kota sepi

Termangu amburadul
Antara kecewa dan gelisah
Mengadu padaku
Seakan tak digubris celotehan tadi pagi

Ketika mentari melewati garisnya
Terjadi percakapan bisu
Antara aku dan angin

Berharap akan tersalur
Ternyata hanya kekosongan
Tak ada rekaman
Yang menjawab semua perbincangan

Antara aku dan angin
Disirami matahari sebagai lentera pagi
Hanya ada dua sisi
Kesunyian dan kehampaan

Pernah terjadi

Edit Posted by with No comments


Pernah terjadi


“Bicaralah pada dahan itu kawan. Tanyakan kepadanya, apakah aku benar atau salah?”

              
                Awan membutuhkan air dan matahari untuk membuatnya menjadi hujan. Air sang penghanyut, dan matahari sang penyengat. Aku tak memikirkan kata sang yang menjadi awal dari julukan mereka. Yang kutahu, mereka adalah kunci dari suksesnya awan membuat hujan.
                Aku berteriak pada angin yang menjelma menjadi topan, “Apa yang membuatmu menjadi brengsek? Tidak prihatinkah kau dengan saudaraku? Kau luluhlantahkan mereka yang tak pernah sedikitpun menjadikanmu liar seperti ini.” Dia berhenti, dan pergi tanpa jawaban sama sekali.
                Aku berteriak pada ombak yang menjelma menjadi tsunami, “Apa yang membuatmu rakus akan daratan? Tak pernah kah kau sadari, seorang nelayan yang mempertaruhkan nyawanya digulunganmu hanya untuk membahagiakan keluarganya? Masihkah kau rebut  nyawanya yang berharga itu? Kau rusakkan keluarganya, kau pisahkan mereka? Mereka tak pernah menggodamu. Mereka hanya berdo’a pada angin yang menentukan mereka kemana pergi”. Dia surut, dan pergi tanpa jawaban sama sekali.
                Dengan gagah berani kuberdiri diatas bukit yang tinggi. Merasakan kedamaian yang begitu luar biasa. lalu pohon-pohon disekelilingku menari-nari dengan nada cemooh “Wahai senja, apakah kau bodoh? Itu adalah takdir tuhan. Mengapa kau memarahi mereka? Jika kau marahi mereka, sama saja kau memarahi tuhanmu. Dasar aneh”. Kemudian mereka kembali menari dengan gembiranya disekelilingku tanpa memperdulikan diriku yang hanyut termakan kata.
                Kutatap pohon itu dengan tajam. Dendam telah merasuki bathin murniku. Tetapi, ada yang aneh pada sudut pohon itu. Kulihat pada sudut batangnya, terdapat satu dahan yang tak ikut menari. Dia hanya berdiam diri menatapku prihatin. Kuselipkan mataku ke arahnya. Dan dia mengangguk padaku, dengan senyuman tulus dan besar hati, diberikannya padaku. Dari jutaan dahan yang menari-nari, hanya dia yang tak ikut menari.
                Kuberlari, turun dari bukit yang terjal. Menaruh simpati pada tanah yang kuinjak keras. Kutusuk hawa dingin yang mengepungku sedari tadi. Hanya satu anggukan dari satu dahan, aku telah mengerti dengan keadaan.


“Andai engkau tau kawan. Asaku telah habis dikunyah oleh kerakusan”
Febbyalp
09 juli 2014